Kamis, 16 Februari 2012

ADAT - ISTIADAT DI KOTA SABANG

Di Susun Oleh : Baderut Tamam
 BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

       Kota Sabang  memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang begitu sangat dijunjung tinggi, Keanekaragaman ini merupakan kekayaan yang perlu dipertahankan serta perlu mendapatkan perhatian khusus dari semua pihak, yang mencakup nilai-nilai kebudayaan yang patut didukung dan dilestarikan oleh seluruh anggota masyarakat, sehingga nilai-nilai budaya yang khas ini mampu mewujutkan kehidupan yang rukun dan damai. Hal ini terlihat pada setiap tingkah laku masyarakat Sabang yang begitu sangat  menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan agama.
Keberadaan adat yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Kota Sabang yang bersendikan pada nilai-nilai Agama Islam, rasanya sangat perlu untuk dipelajari dan dipahami oleh kawan-kawan yang berasal dari Kabupaten dan Kota yang berbeda, sebagai bahan pembelajaran bagi kawan-kawan semuanya.



B.    Rumusan Masalah

    Ada beberapa hal yang dijadikan rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini, antara lain:
1.    Bagaimana profil dan sejarah Kota Sabang?
2.    Bagaimana adat-istiadat di Kota Sabang?

C.    Tujuan Masalah

    Dalam penyusunan makalah, ada beberapa hal yang menjadi tolak ukur bagi penyusun dan pembaca yang bisa dijadikan tujuan dalam penyusunan makalah ini, antara lain:
1.    Untuk mengetahui bagaimana profil dan sejarah Kota Sabang?
2.    Untuk mengetahui bagaimana adat-istiadat di Kota Sabang?



BAB II
 PEMBAHASAN


A.    Profil Kota Sabang

Nama Kota               : Sabang
Luas                          : ± 153 km2
Dasar hukum            : UU No. 10 Tahun 1965
Koordinat                 :050 46’ 28’’ – 050 54‘ 28” LU
                                   950 13’ 02” – 950 22’ 36’’ BT
Kecamatan               : 2
Gampong                 : 18
kode area telepon     : 0652
Suku                         : Aceh, Cina, Gayo, Jawa, Padang, Nias, dll
Bahasa                      : Aceh, Indonesia
Agama                      : Islam

Kota Sabang lahir dengan UU No. 10 Tahun 1965 yang terdiri dari 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Sukakarya dan Kecamatan Sukajaya. Kota Sabang merupakan bagian dari Provinsi Aceh terletak pada 05046’28’’– 05054‘28” Lintang Utara dan 95013’02”– 95022’36’’ Bujur Timur. Luas Kota Sabang adalah 153 km2 serta tinggi rata–rata 28 meter di atas permukaan laut. Batas–batas daerahnya adalah :
a.    Sebelah Utara dengan Selat Malaka
b.    Sebelah Selatan dengan Samudera India
c.    Sebelah Timur dengan Selat Malaka
d.    Sebelah Barat dengan Samudera India
Kota Sabang terdiri dari 5 buah pulau yaitu Pulau Weh (Pulau Terbesar), Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Selako dan Pulau Rondo. Kota Sabang juga memiliki 5 buah danau yaitu Danau Aneuk laot, Danau Paya Senara, Danau Paya Karieng, Danau Paya Peutapen dan Danau Paya Seumesi. Diantaranya yang terbesar adalah Danau Aneuk Laot. Ibukota Kota Sabang adalah Sabang yang berada di pulau Weh, Pulau ini terletak di ujung pulau Sumatra dan merupakan zona ekonomi bebas. Sejak lama Sabang terkenal dengan titik 0 kilometernya, yaitu bagian paling barat dari wilayah Indonesia.

B.    Sejarah Kota Sabang

       Sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka, pulah Weh! Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.
Pada abad ke 12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, jauh mengarungi melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Weh, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di pulau Weh dan menamainya Pulau Emas.
Pedagang Arab yang berlayar sampai ke pulau Weh menamakannya Shabag yang berarti Gunung meletus. Mungkin dari sinilah kata Sabang berasal, dari Shabag. Dari sumber lain dikatakan bahwa nama Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa Aceh, “Weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, karena sesuatu hal akhirnya Pulau Weh, me-weh-kan diri ke posisinya yang sekarang. Makanya pulau ini diberi nama Pulau Weh. Berdasarkan sejarah penuturan dari warga Ulee Lheueh, Pulau Weh sebelumnya bersambung dengan Ulee Lheue. Ulee Lheue di Banda Aceh sebenarnya adalah Ulee Lheueh (yang terlepas). Beredar kabar juga Gunung berapi yang meletus dan menyebabkan kawasan ini terpisah. Seperti halnya Pulau Jawa dan Sumatera dulu, yang terpisah akibat Krakatau meletus. Pulau Weh terkenal dengan pulau We tanpa H, ada yang beranggapan kalau pulau weh diberi nama pulau we karena bentuknya seperti huruf W.
Sebelum terusan Suez dibuka tahun 1869, kepulauan Indonesia dicapai melalui Selat Sunda dari arah Benua Afrika, namun setelah terusan Suez dibuka maka jalur ke Indonesia menjadi lebih pendek yaitu melalui Selat Malaka. Karena kealamian pelabuhan dengan perairan yang dalam dan terlindungi alam dengan baik, pemerintah Hindia Belanda pada saat itu memutuskan untuk membuka Sabang sebagai dermaga. Pulau Weh dan kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah pelabuhan terpenting di selat Malaka, jauh lebih penting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura). Dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station yang dioperasikan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881.
Pada tahun 1883, dermaga Sabang dibuka untuk kapal berdermaga oleh Asosiasi Atjeh. Awalnya, pelabuhan tersebut dijadikan pangkalan batubara untuk Angkatan Laut Kerajaan Belanda, tetapi kemudian juga mengikutsertakan kapal pedagang untuk mengirim barang ekspor dari Sumatra bagian utara. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah Vrij Haven dan dikelola oleh Sabang Maatschaappij.
Saat ini setiap tahunnya, 50.000 kapal melewati Selat Malaka sehingga pada tahun 2000, pemerintah Indonesia menyatakan Sabang sebagai Zona Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas untuk mendapatkan keuntungan dengan mendirikan pelabuhan Sabang tersebut sebagai pusat logistik untuk kapal luar negeri yang melewati Malaka. Prasarana untuk dermaga, pelabuhan, gudang dan fasilitas untuk mengisi bahan bakar sedang dikembangkan.
Hal yang paling penting bagi sejarah Weh adalah sejak adanya pelabuhan di Sabang. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun. Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari banyak negara, singgah untuk mengambil batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya. Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Di saat Kapal laut bertenaga diesel digunakan, maka Singapura menjadi lebih dibutuhkan, dan Sabang pun mulai dilupakan.
Pada tahun 1970, pemerintahan Republik Indonesia merencanakan untuk mengembangkan Sabang di berbagai aspek, termasuk perikanan, industri, perdagangan dan lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri akhirnya menjadi pelabuhan bebas dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia. Tetapi akhirnya ditutup pada tahun 1986.

C.    Adat- Istiadat di Kota Sabang

1.    Adat Lamaran
a.    Jak Meulakee
    Jika dua orang muda-mudi hendak mengikat tali pernikahan, langkah pertama yang biasa dilakukan oleh masyarakat sabang adalah mengutus beberapa orang dari pihak lelaki (selangkee) datang dan bersilaturahmi ke rumah orang tua si gadis. Pada kesempatan ini selangkee akan memastikan status di gadis, apabila belum ada yang punya maka para  selangkee akan menyampaikan tujuan maksud kedatangan mereka untuk meminang si gadis. Jika si gadis menerima pinangannya maka mereka akan melalakukan pertemuan-pertemuan selanjutnya untuk membahas berapa mahar yang harus di bawa oleh pihak lelaki dan juga menentukan kapan acara tunangan akan dilaksanakan. 

b.    Tunangan
Setelah jak meulakee, maka acara selanjutnya yang biasa dilakukan oleh masyarakat Sabang adalah tunangan. Pada acara ini pihak keluarga lelaki akan mengantarkan satu  asoe talam yang berisi roti kaleng, susu, fanta, sprit, baju, sepatu, dan beberapa peralatan lainnya. Pada acara ini juga pihak lelaki membawa emas yang biasanya sebesar dua manyam untuk di pakaikan kepada si gadis  pada acara  tunangan tersebut. Adapun tujuan acara ini untuk mempererat hubungan kedua belah pihak dan untuk pemperjelas bahwa si gadis sudah ada yang pinang. Apabila ikatan pertunangan ini putus di tengah jalan dan disebabkan oleh pihak lelaki, maka emas  tersebut tidak lagi dikembalikan. Namun apabila ikatan tersebut putus disebabkan oleh pihak wanita, maka emas tersebut harus di bayar dua kali lipat.

2.    Adat Pernikahan 
a.    Boeh gaca
Tiga  hari sebelum pernikahan, si gadis yang akan menikah biasanya melakukan acara boeh gaca. Yang memakaikan gaca tersebut biasanya oleh ibu tetua di tempat tersebut yang memang ahli dalam bidang boeh gaca dan juga di bantu oleh beberapa wanita lainnya.

b.    Seumanoe dara baroe
Sebelum berlangsungnya acara pernikahan. Biasanya calon dara baro harus melakukan siraman pada pagi harinya, dan sebelum Seumanoe dara baroe ini dimulai, terlebih dahulu dilakukan acara peusijuek.

c.    Akad pernikahan.
Setelah semua tahapan dapat dilalui dengan baik maka barulah kemudian acara inti pun digelar yaitu acara pernikahan.  Masyarakat Sabang biasanya melangsungkan akad nikah di mesjid atau di KUA dengan disertai wali dari pikah dara baroe, saksi nikah dan para undangan. Setelah kedua mempelai melakukan akad nikah dihadapan penghulu dan telah resmi menjadi sepasang suami istri, biasanya dilanjutkan dengan  acara foto bersama keluarga besar di tempat pernikahan tersebut berlangsung.

d.    Intat Lintoe
Intat lintoe adalah proses pengantaran pengantin pria yang dilakukan oleh masyarakat gampong lintoe baroe ke rumah si dara baroe. Sebelum acara intat lintoe ini berlangsung, masyarakat gampong dara baroe mengadakan samadiah terlebih dahulu di rumah si dara baroe. Ketika rombongan lintoe berangkat ke rumah dara baroe mereka membawakan idang berupa pakaian, kue kaleng, susu, kopi, telur, gula, sirih, alat-alat kosmetik dan lain sebagainya yang dihias sedemikian rupa. Biasanya jumlah hidang tersebut di sesuaikan dengan jumlah mahar. Misalnya 15 mayam, maka jumlah idangnya pun sebanyak 15 talam.
 Sesampainya di rumah dara baroe, rombongan linto baroe akan disambut oleh masyarakan gampong. Rombongan linto baroe yang telah sampai ke rumah dara baroe disambut oleh tokoh masyarakat dengan menyuguhkan batil sirih dan penukaran payung. Dara baroe telah menunggu di halaman rumah yang kemudian didampingi oleh linto baroe. Baru kemudian dipersilahkan masuk ke rumah, rombongan disuguhkan dengan hidangan khusus yang disebut idang bu bisan. Setelah selesai makan, maka orang yang di tuakan dari masing-masing mempelai akan melakukan serah terima, biasanya dengan kata-kata: pihak laki-laki “Nyoe sidroe aneuk kamoe katroh meulangkah u gampong nyoe, maka peu-peu yang hana meufom  adat lam gampong nyoe tuloeng peurnoe, meunyoe na salah neu tegur. Nyoe aneuk kamoe ka kamoe seurahkan keu ureueng dron” (ini seorang anak kami sudah sampai di desa ini, apabila ada adat desa ini yang dia tidak pahami tolong ajarkan, apabila ada kesalahan tolong di tegur. Anak kami sudah kami serahkan kepada anda ) dijawab oleh pihak dara baroe “ ka neu peugah, ka neu peujok, ka kamoe terimoeng. Kadang na lom teungku-teungku linto baroe yang mantoeng na di sideh, jeut neu ba lom keunoe, mantoeng lee bungoeng-bungoeng keumang na di gampoeng nyoe, kamoe mantoeng siap meuterimoeung” (karena sudah diserahkan, maka kami terima. Mungkin masih ada laki-laki yang baik di sana bisa di bawa lagi ke sini, karena masih banyak anak gadis di desa ini, kami masih siap menerimanya).
 Setelah upacara serah terima selesai barulah kedua mempelai duduk di pelaminan, kemudian keduanya di peusijuek dan peusunteng oleh orang tua atau keluarga terdekat dan dilanjutkan dengan sanak saudara. Tiap-tiap orang yang bersalaman memberikan uang kepada pengantin, apabila yang peusuntengnya pihak isteri maka uangnya diberikan kepada suami, dan sebaliknya, apabila yang peusuntengnya pihak suami maka uangnya diberikan kepada isteri. Setelah peusunteng selesai maka rombongan linto baro pamit pulang, sedangkan linto baro tetap tinggal untuk disanding dipelaminan hingga acara selesai.
e.    Intat Dara Baroe
Acara ini bagian dari acara peresmian, hanya saja acaranya dilakukan oleh pihak linto baroe. Di mana setelah beberapa hari pesta pernikahan berlangsung, maka keluarga pengantin wanita beserta masyarakat gampong (kusus untuk kaum hawa) akan mengantarkan dara baroe ke rumah linto baro. Rombongan dara baroe membawa kue (dodol, meuseukat, wajeb, bhoy, kue bungoeng kayee, bolu, ranup bungoeng dan lain-lainnya). Kue yang di bawa ke rumah linto baroe biasanya di tanggung oleh sanak saudara dari dara baroe. Ada sebagian keluarga yang menyandingkan kedua mempelai kembali, tetapi ada juga mempelai wanitanya saja yang duduk sendirian.

3.    Adat  di Masa Kehamilan
Pada saat wanita telah hamil lima bulan, mertua bersama keluarga terdekat membawa berbagai jenis buah-buahan untuk menantunya yang sedang hamil. Kemudian pada bulan ketujuh si mertua juga mengadakan acara mee bue (antar nasi) oleh keluarga si suami dengan membawa nasi, lauk-pauk serta berbagai macam penganan seperti bu leukat, meusekat, wajeb, dodoi, bhoi, timphan, sama loyang, peunajoh tho dan lain-lain dalam jumlah yang besar. Acara ini diikuti keluarga serta tetangga di kampung. Kehadiran mereka disambut oleh keluarga istri dan tetangga dengan suka cita. Pada kesempatan ini ibu hamil dipeusijuek (didoakan) oleh mertua dan keluarga dekat. Mee bu ini dilakukan untuk memperkuat silaturrahmi dan ukhuwah islamiyah antar keluarga suami dan isteri.

4.    Adat di Masa Ibu Melahirkan   

Pada saat bayi telah lahir disambut dengan azan bagi anak laki-laki dan qamat bagi anak perempuan. Teman bayi yang disebut adoi (ari-ari) dimasukkan ke dalam sebuah periuk yang bersih dengan disertai aneka bunga dan harum-haruman untuk ditanam di sekitar rumah baik di halaman, di samping maupun di belakang. Selama satu minggu tempat yang ditanam ari-ari tersebut dibuat api unggun, hal ini untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti adanya orang ilmu hitam yang memanfaatkan benda tersebut dan dari serangan binatang pemangsa seperti anjing. Pada hari ke tujuh setelah bayi lahir, diadakan upacara cukuran rambut dan peucicap, kadang-kadang bersamaan dengan pemberian nama. Ada juga yang cukur rambut pada hari-hari lain. Acara peucicap dilakukan dengan mengoles manisan pada bibir bayi dan memperkenalkan bermacam-macam rasa, supaya kelak dia bisa membedakan antara satu rasa dengan rasa yang lain. Pada hari ini juga nenek dari ayahnya datang membawa ayunan, ija geudong (kain pembalut bayi), ija tumpe (popok), tilam, bantal, tali ayun dan memakaikan cincin atau gelang emas untuk sang cucu tercinta.
Pada saat umur bayi 44 hari setelah madeueng, maka sang ibu akan mengadakan acara turun tanah. Upacara Turun Tanah tidak hanya melibatkan kerabat ibu dan ayah sang bayi, tetapi juga para tetangga dan handai taulan. Upacara ini diawali dengan penggendongan bayi (anak) oleh seorang yang terpandang dalam masyarakatnya. Anak tersebut dibawa ke sebuah tangga, kemudian diturunkan dari anak tangga yang satu ke lainnya. Ketika penurunan dilakukan, anak tersebut dipayungi dengan payung atau sehelai kain yang setiap sudutnya dipegangi oleh seseorang. Kemudian di halaman rumah kaki bayi di injakkan ke tanah (peugidoeng tanoh). Lalu bayi dimandikan, wudhuk dan melempar beras padi (sipreuk breuh pade), kemudian sebuah kelapa dibelah di atasnya yang ditutup dengan daun pisang ataupun kain sambil berkat nyan geulanteu neuk, bek teukeujet, (ini petir, jangan terkejut). Bagi orang-orang yang mampu mereka akan mengadakan marhaban, lalu membawa anak keliling rumah, kemudian anak di bawa masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam, salawat dan dilanjutkan lagi dengan marhaban, membaca doa agar kelak anak menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orang tua dan masyarakat. Dengan masuknya anak ke dalam rumah, maka berakhirlah upacara turun tanah ini. Sejak saat itu anak sudah diperbolehkan menyentuh tanah. Sementara itu para undangan dipersilahkan menikmati hidangan, sebagai ungkapan terima kasih dari keluarga dan masyarakat, sang bayi melalui upacara turun tanah, diberi sejumlah uang (ala kadarnya).

5.    Adat  Peusijuek
Peusijuek biasanya dilaksanakan oleh masyarakat Sabang ketika mengapresiasikan sesuatu, atau mengakhiri sengketa yang telah terjadi antar warga. Sering juga peusijuek dilakukan ketika warga mendapatkan keberuntungan, lepas dari mara bahaya, dan ketika akan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan baik seperti hendak melakukan ibadah haji atau sekembali dari melakukan ibadah haji, tueng linto baroe/dara baroe, woe u rumoh baroe, ketika melaksanakan sunat rasul, menggunakan peralatan kerja baru, atau ketika akan melakukan perkejaan-pekerjaan yang dianggap mulia menurut adat Aceh. Di antara perlengkapan alat-alat dan bahan-bahan yang gunakan dalam prosesi peusijuek itu terdiri atas:
1.    Air dan tepung tawar
2.    Beras dan padi
3.    On Manéek-manö (jenis daun-daunan)
4.    On sinijuek (jenis daun-daunan)
5.    Naleung sambö (sejenis rerumputan; memiliki akar yang kuat)
6.    Bueleukat kunéeng (ketan kuning)

6.    Macam-Macam Kenduri di Sabang   
a.    Kenduri maulid (khanduri maulod)
Tradisi masyarakat dalam memperingati hari kelahiran nabi muhammad di berbagai tempat umum, seperti balai desa, pesantren, masjid, sekolah, dan dirumah-rumah penduduk, diperingati dengan berbagai cara seperti doa bersama, zikiri, kenduri maulid, ceramah agama, dan santunan anak yatim  atau fakir miskin.
Pada hari “khanduri maulod”, masyarakat menyedekahkan makanan siap saji untuk dinikmati bersama. Makanan yang disedekahkan masyarakat berupa nasi yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk segitiga yang dinamakan dengan “bue kulah” beserta lauk-pauk mulai dari guali ayam kampong, gulai kambing, gulai ikan, telur bebek, sayur nangka, buah-buahan, kue,dan lain-lain.
Makanan-makanan tersebut dibungkus dengan tudung saji berkainkan berenda emas.

b.    Kenduri troen ue laot (turun ke laut)
Kenduri troen ue laot (turun ke Laut) merupakan kebiasaan yang sudah menjadi tradisi warga nelayan di Sabang. kebiasaan ini dilaksanakan pada akhir musim barat atau awal  musim timur lebih tepatnya pertengahan bulan September. Para nelayan di kerahkan oleh Panglima Laot untuk menyiapkan makanan-makanan untuk keperluan kenduri troen ue laot, yang acaranya itu yang dilaksanakan di pinggir pantai. Dalam acara tersebut juga dilaksanakan acara pembacaan do’a yang dipimpin oleh seorang tengku. Selesai pembacaan do’a baru makanan yang telah dipersiapkan tadi di makan bersama. Acara makan-makan tersebut tidak hanya untuk para nelayan tapi berlaku juga untuk warga sekitar yang mau ikut bergabung.

c.    Kenduri Rabu Abeh
Rabu abeh merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat pada rabu terakhir di bulan Safar. Pada bulan ini masyarakat meyakini bahwa dibulan ini terdapat banyak penyakit. Jadi masyarakat mengadakan pembacaan doa bersama untuk menolak penyakit dan diakhiri dengan makan-makan di laut.

7.    Adat Sunat Rasul (Khitan) di Sabang
Sunat Rasul (khitan) merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Pada umumnya sunat rasul ini dilaksanakan pada saat anak laki-laki telah berumur 10 tahun hingga 12 tahun dan pada anak perempuan saat berumur 2 tahun.
Sunat rasul ini, biasanya di kota Sabang diadakan acara hanya untuk anak lelaki saja, sementara untuk anak perempuan tidak. Pada saat acara  tersebut anak laki-laki yang akan disunat dianjurkan memakai pakaian adat, kemudian di dudukan di atas pelaminan. Dimana diadakan peusijuk dengan setawar sedingin, beras padi serta dipesunting dengan ketan oleh kaum kerabat dari pihak ayah dan ibu. Setelah acara sunat rasul dilangsungkan, maka keesokan harinya anak tersebut langsung di khitan oleh mantri atau dokter yang telah di percayai sebelumnya.

8.    Adat Kematian di Sabang

    Dalam     adat atau kebiasaan yang terjadi di Sabang, apabila ada seseorang yang telah berpulang ke rahmatullah maka warga masyarakat akan melakukan beberapa hal berikut ini:

a.    Keumunjoeng
Ketika salah seorang warga gampong meningal dunia, maka sudah menjadi tradisi untuk masyarakat yang lain berkunjung ke rumah duka. Hal ini dilakukan sebagai ujud kebersamaan dalam masyarakat dan ikut merasakan apa yang dirasakan keluarga duka. Dalam kunjungan ini pihak keluarga telah menyiapkan beberapa ember kecil yang berisi beras, warga yang datang akan memasukkan uang sedekahnya kedalam ember tersebut, tujuannya agar tuan rumah yang sedang berduka tidak diganggu oleh warga yang berdatangan untuk bersalaman dengannya. Warga yang datang biasanya disuguhkan dengan air teh dan kopi dengan cemilan kue kering sepeti akar kayu, roti bintang, unibis dan lainnya.
Setelah jenazah dikuburkan barulah para tamu pulang ke rumahnya masing-masing. Pada malamnya di menasah akan diadakan samadiah oleh kaum bapak-bapak setelah salat magrib.

b.    Khanduri 
Pada awal-awal hari meninggal tidak diadakan acara besar-besaran, hanya saja pada malam ketiga ada pembacaan doa oleh orang tua gampong di rumah yang dipimpin oleh teugku gampong, setelah baca doa selesai maka para tamu akan diberikan sedikit makanan berupa nasi dan lauk-pauk ala kadarnaya. Pada malam ke lima kembali diadakan pembacaan doa yang dihadiri oleh sanak saudara dan beberapa tokoh gampong, pada hari ke tujuh baru diadakan kanduri, tapi kali ini bukan kanduri yang besar-besaran melainkan kanduri yang mengundang beberapa orang masyarakat dan saudara-saudara untuk makan bersama dirumah. Pada malam harinya diadakan lagi samadiah dan doa bersama yang dipimpin oleh teugku gampong, kadang dilnjutkan lagi dengan membaca al-Qur’an.
 Pada hari ke sepuluh diadakan kanduri besar-besaran dengan memotong hewan seperti sapi atau kerbau. Kanduri pada hari ini dihadiri oleh seluruh warga masyarakat, sanak saudara, dan orang-orang yang mengenal keluarga duka tanpa kecuali. Tetangga dan masyarakat yang datang membawa aneka kue untuk di sajikan kepada tamu. Pada malam yang sepuluh ini tetangga dan saudara berdatangan untuk menghadiri malam sepuluh. Setelah semua tamu datang, pihak keluarga mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang telah disajikan. Setelah semua salesai menikmati aneka hidanga, maka teungku mulai memimpin acara yang diawali dengan samadiah dan ditutup dengan doa.
Setelah malam sepuluh itu tidak ada lagi acara besar-besaran, paling hanya ada pengajian yang dilakukan oleh saudara, atau bacaan al-quran yang sengaja memanggil orang-orang yang sudah ahli dalam bacaan tilawah al-quran. Pada hari atau malam-malam tertentu seperti malam 15, 20, 30 ada diadakan sedikit acara berupa pemberian makanan untuk anak yatim, atau sekedar sadaqah untuk faqir miskin. Pada hari ke 44 maka diadakan doa bersama di kuburan dengan membawa bunga-bunga untuk ditaburkan diatas kuburan. Ada juga keluarga yang mengadakan lagi kanduri seperti hari kesepuluh, itu semua tergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. 



BAB III
KESIMPULAN
     Dari pembahasan makalah ini dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain:
1.  Kota Sabang lahir dengan UU No. 10 Tahun 1965 yang terdiri dari 2 Kecamatan, yaitu                  
     Kecamatan Sukakarya dan Kecamatan Sukajaya. Dengan batas–batas daerahnya adalah :
     a.    Sebelah Utara dengan Selat Malaka
     b.    Sebelah Selatan dengan Samudera India
     c.    Sebelah Timur dengan Selat Malaka
     d.    Sebelah Barat dengan Samudera India

2.  Adat- Istiadat di Kota Sabang :
     a.    Adat lamaran
     b.    Adat pernikahan
     c.    Adat di masa kehamilan
     d.    Adat di masa ibu melahirkan
     e.    Adat peusijuek
     f.    Adat peusunat (Khitan)
     g.    Adat kematian

3.  Macam-macam khanduri di Sabang
     a.    Kenduri maulid (khanduri maulod)
     b.    Kenduri troen ue laot (turun ke laut)
     c.    Kenduri Rabu Abeh





SEKIAN







1 komentar:

  1. GAMES POKER & DOMINO ONLINE TERBESAR DI ASIA
    BANDAR Q | DOMINO 99 | ADU Q | BANDAR POKER | POKER | CAPSA SUSUN | SAKONG

    MEMBERIKAN BONUS TERBESAR !!
    - CASHBACK 0.3%
    - REFFERAL 15%
    - JACKPOT !!
    - MINIMAL DEPOSIT & WITHDRAW 20RB
    - BEST SERVER FOR GAMBLING NO ROBOT !
    - PLAYER VS PLAYER
    - FAST PROSES !
    - CS ONLINE 24 JAM


    TUNGGU APA LAGI ? AYOO SEGERA BERGABUNG BERSAMA KITA
    JANGAN LUPA AJAK TEMAN - TEMANNYA SEKALIAN YAA www(.)JuraganQQ(.)net

    - SALAM KAYEEH JURAGANQQ -

    BalasHapus